Sejarah Negeri

About Us Image

SEJARAH TERBENTUKNYA NEGERI ADAT HILA

Ketika negeri-negeri adat mulai didirikan dari rumatau,hena/aman,1, soa,2 dan uli,3 merupakan satu cikal bakal pembentukan negeri dan sistim pemerintahan adat mulai diterapkan di negeri-negeri adat di pulau Ambon. Menurut Manusama,4 ketika penduduk bertambah dan desa/negeri meluas, aman mulai bergabung ke dalam federasi-federasi yang disebut uli. Aman-aman ini bertempat tinggal di dipegunungan, dua atau tiga kilometer dari pantai.  Aman  yang berpengaruh dalam masing-masing uli  akhirnya dan sampai hari ini disebut negeri lama,  adalah desa/negeri dimana matarumah  raja dan matarumah  tuan tanah bermukim.

Dalam tulisan Rumphius, dia menyebutkan bahwa negeri Hitu dahulu adalah ibu kota dari pulau Ambon Besar atau Tanah Hitu. Terletak di pantai utara pulau Ambon pada sebuah teluk dan sebelah utara terdapat pegunungan dengan lembah-lembah terjal. Pesisir pulau Ambon memiliki pantai yang landai diselingi terumbu karang yang muncul dari laut5. Di tanah Hitu, terdapat sebuah negeri adat yaitu negeri Hila yang tempo dulu dikenal dengan nama “Bandar Hila” pada masa pemerintahan Raja Hasan Solaiman (Raja Bulan). Negeri ini juga dikenal sebagi pusat perdagangan di Maluku dan pulau Ambon sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, baik kebudayaan lokal maupun kebudayaan Islam6

Keberadaan sejarah negeri Hila tidak terlepas dari sejarah kedatangan Empat Perdana7  di tanah Hitu merupakan awal datangnya manusia sebagai penduduk asli pulau Ambon. Kedatangan Empat Perdana termasuk di dalamnya orang-orang Alifuru8 . Salah satu kabata yang mengkisahkan tentang kedatangan Empat Perdana adalah sebagai berikut :9

awal lo ijadi, lete elia paunusa, naihe letejadi hitua upuhata, Artinya : awal kejadian, di bukit paunusa, akan muncul d tanah Hitu Empat Perdana,Dalam proses kedatangan Empat Perdana dijelaskan bahwa:10

  1. Pedatang pertama adalah Pattisilang Binaur  dari Gunung Binaya (Seram Selatan) kemudian ke Nunusaku dan menuju ke tanah Hitu. Mereka mendiami suatu tempat yang bernama Bukit Paunusa, kemudian medirikan negerinya bernama Soupele dengan marganya Tomu Totohatu. Pattisilan Binaur disebut juga Perdana Totohatu atau Perdana Zaman Jadi.
  2. Pendatang kedua adalah Kyai Daud dan Kyai Turi disebut juga Pattikawa dan Patti Turi  dengan saudari perempuan   Nyai Mas. Menurut silsilah keturuanan raja Hitu, bahwa Pattikawa, Pattituri dan Nyai Mas adalah anak dari Muhammad Taha Bin Baina Mala bin Baina Urati bin Saidina Zainal Abidin Baina Yasurullah bin Muhammad an-Naqib, yang nasabnya dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Muhammad Rasullullah. Sedangkan Ibu mereka adalah asal dari keluarga raja Mataram Islam yang tinggal dikerajaan Tuban dan mereka dibesarkan disana. Menurut Imam Lamhitu salah satu pencatat kedatangan Empat Perdana Hitu  dengan kasra Arab Melayu (1689), Imam Rijali (1646) dalam Hikayat Tanah Hitu menyebutkan bahwa mereka orang Jawa, yang datang bersama kelengkapan dan Hulubalangnya yang bernama Tubanbesi, artinya orang kuat atau orang perkasa dari Tuban. Adapun kedatangan mereka ke tanah Hitu hendak mencari tempat tinggal leluhurnya yang jauh sebelum ketiga Perdana itu datang. 
  3. Kemudian datang lagi Jamilu dari Kerajaan Jailolo. Tiba ditanah Hitu pada tahun 1465 pada waktu magrib dalam Bahasa Hitu Kuno disebut Kasumba Muda atau warma merah muda (warna bunga). Sesuai dengan corak warna langit waktu magrib. Mendirikan negerinya bernama Laten, kemudian nama negerinya tersebut menjadi nama marganya yaitu Lating.  Jamilu disebut juga Perdana Jamilu atau Perdana Nusatapy, artinya pendamai, karena beliau dapat mendamaikan permusuhan antara Perdana Tanahitu dengan Perdana Totohatu. Kata Nustapy  asal kata dari Nusa (artinya ; pulau)  dan tapi  (artinya ; pendamai),  beliau juga digelari Kapitan Hitu I
  4. Sebagai pendatang terakhir adalah Kyai Patti  dari Gorom (pulau Seram Bagian Timur) tiba ditanah Hitu pada tahun 1468, yaitu pada waktu Ashar, sore hari dalam Bahasa Hitu Kuno disebut Halo Pa’u  artinya biru, sesuai corak warna langit pada waktu Ashar (waktu shalat). Mendirikan negeri bernama Ollong, nama negeri tersebut menjadi marganya yaitu marga Ollong. Kyai Patti  disebut juga Perdana Patti Tuban, karena beliau pernah diutus ke Tuban untuk mempelajari sistim pemerintahan disana yang menjadi dasar pemerintahan di Kerajaan Tanah Hitu. 

 Pada saat pertama kedatangan Empat Perdana diatas, di tanah Hitu di bukit Paunusa sebagai tempat berkumpulnya Empat Perdana tersebut. Kemudian dalam perjalanan selanjutnya ketiga perdana (Perdana Totohatu, Perdana Jamilu, dan Perdana Patti Tuban) berhijrah ketempat atau negeri baru untuk membangun sebuah peradaban yang maju dan beradab. Berhijrah dilakukan dengan maksud untuk menjalankan dakwah atau syiar Islam berjalan dengan baik dan semakin meluas di tanah Hitu. Kebijakan ini dilakukan oleh Perdana Jamilu (Gelar Upu Bijaksana),  untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan diantara ke-empat perdana tersebut. Dari sinilah ketiga perdana (Perdana Totohatu, Perdana Jamilu, dan Perdana Patti Tuban) memutuskan untuk berhijrah kesebuah tannjung/teluk yang bernama “Hilau” dalam Bahasa tanah,  artinya ; sesuatu yang indah disana. Maka ketiga perdana tersebut, berangkat menuju tempat yang sekarang dikenal dengan Negeri Hila.

Dalam proses untuk mendirikan negeri baru (negeri Hila sekarang) maka ketiga perdana mengambil inisiatif untuk bergabung dengan suku masyarakat gunung yakni kelompok suku masyarakat yang pertama mendiami daerah ini. Suku masyarakat gunung, mereka telah memiliki budaya dan peradaban sebagai masyarakat gunung bahkan mereka sudah bersyahadat dan menjalankan syariat Islam. Masyarakat gunung ini, terdiri dari beberapa sub-suku diantaranya adalah a) amang sanalu, b) amang tihupai, dan c) amang masapal.

Sub-suku masyarakat gunung yang pertama bergabung adalah amang sanalu dan amang tihupai. Sedangkan sub-suku amang masapal belum bersedia untuk bergabung. Dari kondisi ini, maka atas kebijaksanaan Perdana Jamilu menugaskan seorang utusan ke gunung untuk menyampaikan dan mengadakan pertemuan dengan Upu Latu Masapal (Raja Masapal).  Dengan tujuan meminta kesediaan Upu Latu Masapal bergabung untuk mendirikan sebuah negeri adat dalam satu pemerintahan. Dalam pertemuan tersebut Upu Latu Masapal  bersedia turun dari gunung, bekerjasama dan bergabung dengan ketiga perdana tersebut. Sebelum bergabung, Upu Latu Masapal  meminta kesepakatan bersama atau perjanjiang dengan Perdana Jamilu. Salahsatu butir kesepakatan atau perjanjian itu adalah Upu Latu Masapal  bersedia bergabung dengan meminta dan bermohon kepada Perdana Jamilu untuk bersedia meberikan tempat tinggak atau wilayah bagi subu-suku masyarakat Amang Masapal. Dari permintaan Upu Latu Masapal (Raja Masapal),  maka atas kesepakatan ketiga perdana (Perdana Totohatu, Perdana Jamilu, dan Perdana Pattituban) untuk mebagi negeri ini menjadi dua bahagian dengan istilaha Bahasa tanah yaitu “ Latahila Solo Hua” (artinya ; membagi negeri menjadi dua) maka  Upu Latu Masapal  diberikan satu tempat tinggal/wilayah dengan Bahasa tanah yaitu “Upu Hua Telu”.

Dari proses penggabungan sub-suku masyarakat gunung diatas maka terbentuk satu negeri adat yakni negeri Hila yang terdiri dari 7 (tujuh) amang diantaranya adalah :

1.Amang Lating (Perdana Jamilu)

2.Amang Ollong (Perdana Patti Tuban)

3.Amang Elya Paunusa (Perdana Totohatu)

4.Perdana Tanahhitumessing

5.Amang Tihupai

6.Amang Sanalu

7. Amang Masapal.



Untuk dapat mengetahui makna kata negeri Hila, maka perlu ditelusuri kandungan makna kata tersebut. Secara etimologi, akar kata Hila sebagai cikal bakal nama negeri Hila ada beberapa fersi diantaranya sebagai                berikut :

Versi Pertama

Makna akar kata Hila berasal dari Bahasa Tanah Hitu Hilau (artinya sesuatu yang indah disana11). Menurut tokoh masyarakat adat bahwa makna sesuatu yang indah itu akan hilang apabila ada niat jahat dari sesorang atau orang lain terhadap negeri ini maka negeri ini akan hilang dengan sendirinya. Disamping itu, keindahan negeri inioun tercermin dari luas daratan yang strategis di jazirah leihitu dan pulau Ambon. Dalalm catatan sejarah bahwa peneliti Rumphius pernah meneliti berbagai jenis flora dan fauna yang indah dinegeri ini12 yang tertulis dalam bukunya “Herbairium Amboinensche dan Ambonsche Raretinkammer”.

Versi Kedua

Makna negeri Hila jika dikaitkan dengan letak geografis berada pada poros pulau Ambon menurut sumber lisan masyarakat adat dengan Bahasa Tanah Hitu Amangusei pusar artinya pusat manusia berada ditengah konstruksi. Tubuh manusia) atau Hatala’a pulau Ambon (negeri ini berdada ditengah-tengah pulau Ambon)13. 

 Versi Ketiga

Makna negeri Hila jika dikaitkan dengan keberadaan masjid pertama yang didirikan oleh Hasan Soleman/Raja Bulan (Salah satu keturuan Perdana Jamilu) denga konstruksi bangunan masjid tergantung. Pendapat ini dihubungkan dengan versi kedua yakni posisi negeri ini berada pada poros pulau Ambon14.

 

Kepala Pemerintah Negeri adalah seorang Raja atau Sultan namun saat ini dipimpin oleh seorang caretaker yang ditunjuk oleh Bupati Kabupaten Maluku. Negeri Hila menganut hukum adat dalam system pemerintahan dimana hanya dua mata rumah parentah turunan raja yang dapat dicalonkan atau dipilih menjadi raja yaitu Lating dan Ollong (Berdasarakan Keputusan Mahkamah Agung RI bulan September Tahun 2022)