HILA - Pj Kepala Pemerintah Negeri Hila didampingi Sekertaris Negeri dan kasi Pemerintahan Hadiri Kegiatan Hari Pariwisata Dunia yang diselenggarakan di Benteng Amsterdam Hila, . Pj KPN Hila Kasim Ely S.Sos.I menyampaikan Apressiasi setinggi tingginya dan ucapan terimakasih kepada Penyelenggara Kegiatan karena telah memilih Negeri Hila sebagai Lokasi Penyelenggaraan Kegiatan tersebut, melalui Kegiatan ini harapannya agar Pariwisata di Hila dapat dikembangkan dan bermanfaat bagi sosial ekonomi masyarakat Negeri Hila, tentunya Pemerintah Negeri dan Masyarakat Hila harus mampu kedepannya mengembangkan Potensi Pariwisata di Negeri ini lebih baik lagi, bahkan harus mampu meningkatkan Sektor Pariwisata Negeri Hila tidak hanya Bertumpu Pada dua Situs Sejarah yang ada diNegeri Hila saja , namun perlu ada Pengembangan Potensi Wisata laut dan Darat yang ada d Negeri Hila agar mampu menarik lebih banyak Wisatawan Asing maupun Lokal di Negeri Hila guna meningkatkan Perekonomian Masyarakat Negeri Hila. Pemerintah Negeri Hila berkomitmen Mendukung dan mendorong Sektor Pariwisata yang ada di Negeri Hila, agar mampu menghidupkan Sektor Ekonomi namun tentunya pengembangan ini memerlukan keterlibatan semua unsur dan lebih penting lagi kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian alam dan Potensi Wisata yang ada di Negeri ini.
World Tourism Day 2026 di Hila Dorong Gerakan Pariwisata Berkelanjutan melalui Pelestarian Alam dan Warisan Budaya
“Merawat Alam, Melestarikan Budaya, Menguatkan Masyarakat”
Hila, Maluku Tengah, 26 September 2026 — Peringatan World Tourism Day 2026 di Negeri Hila, Kabupaten Maluku Tengah, menjadi momentum untuk memperkuat gerakan bersama dalam mewujudkan pariwisata berkelanjutan di Maluku.
Mengusung tema “Sustainable Tourism Movement” dengan tagline “Merawat Alam, Melestarikan Budaya, Menguatkan Masyarakat”, kegiatan yang dipusatkan di kawasan Benteng Amsterdam, Negeri Hila, pada Sabtu, 26 September 2026, mempertemukan unsur pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pelestarian budaya, masyarakat, sekolah, serta pihak swasta dalam satu gerakan bersama.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi IAKN Ambon, Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku, Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah, Pemerintah Negeri Hila, dan Pemerintah Negeri Kaitetu, dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat dan generasi muda.
Dihadiri Pimpinan Perguruan Tinggi, Pemerintah dan Lembaga Kebudayaan
Peringatan World Tourism Day 2026 di Hila turut dihadiri oleh Rektor IAKN Ambon, Dr. Elka Anakota, M.Si., Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Maluku, Dody Wiranto, S.S., M.Hum., serta Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku yang diwakili oleh Kepala Bidang Ekonomi Kreatif.
Hadir pula Pejabat Pemerintah Negeri Hila, Raja Negeri Kaitetu, Wakil Rektor I IAKN Ambon Dr. Herly Lesilolo, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan (FISK) IAKN Ambon Dr. Sipora Warella, serta perwakilan STIKES Maluku Husada Program Studi K3.
Keterlibatan generasi muda juga terlihat melalui kehadiran siswa dari SMA Negeri 18 Maluku Tengah, SMA Negeri 26 Maluku Tengah, MAS Nurul Tsaqalain Hila, SD Negeri 198 Maluku Tengah, dan SD Negeri 295 Maluku Tengah.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa agenda pariwisata berkelanjutan membutuhkan keterlibatan lintas sektor dan lintas generasi.
Diskusi Ekosistem Pesisir: Alam sebagai Penopang Kehidupan Masyarakat
Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah diskusi mengenai ekosistem pesisir dan manfaatnya bagi kelangsungan hidup masyarakat pesisir, yang dibawakan oleh Dr. Renoldy Papilaya, M.P. Diskusi memberikan ruang edukasi bagi peserta untuk memahami bahwa kawasan pesisir bukan hanya memiliki nilai estetika sebagai daya tarik wisata, tetapi juga memiliki fungsi ekologis dan sosial yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Ekosistem pesisir memiliki keterkaitan dengan berbagai aktivitas masyarakat, sehingga keberlanjutannya menjadi bagian penting dalam pengembangan destinasi wisata yang bertanggung jawab. Melalui diskusi ini, peserta diajak melihat bahwa pengembangan pariwisata harus berjalan seiring dengan upaya menjaga ekosistem yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat dan daya tarik destinasi.Dari Edukasi ke Aksi: Bersih Pantai, Mangrove dan Pembibitan Karang ,World Tourism Day 2026 tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga diterjemahkan melalui berbagai aksi nyata di lapangan.
Peserta melakukan aksi bersih kawasan pesisir sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan dan keberlanjutan lingkungan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penanaman dan pembibitan mangrove sebagai bagian dari upaya edukasi konservasi ekosistem pesisir.
Sementara itu, pada ekosistem laut dilakukan kegiatan pembibitan karang yang dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Spice Island Divers & Resort.
Keterlibatan Spice Island Divers & Resort menjadi bagian penting dalam kegiatan ini karena menunjukkan kontribusi pihak swasta dalam mendukung pelestarian lingkungan dan keberlanjutan destinasi wisata.
Kolaborasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa tanggung jawab terhadap keberlanjutan pariwisata tidak hanya berada pada pemerintah dan masyarakat, tetapi juga membutuhkan keterlibatan dunia usaha dan pelaku industri pariwisata.
Mengenal Warisan Budaya melalui Heritage Walk
Aspek lingkungan dalam kegiatan ini berjalan beriringan dengan pelestarian warisan budaya.
Peserta mengikuti Heritage Walk dengan mengeksplorasi kawasan bersejarah di Negeri Hila, termasuk Benteng Amsterdam dan Gereja Tua Hila.
Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya diajak melihat bangunan bersejarah sebagai objek wisata, tetapi juga memahami nilai sejarah dan budaya yang melekat pada kawasan tersebut.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membangun pariwisata yang tidak memisahkan antara alam, budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat lokal.
Ekoteologi: Menghubungkan Iman, Alam dan Tanggung Jawab Merawat Ciptaan
Kegiatan juga diwarnai dengan refleksi ekoteologi yang mengajak peserta melihat pelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia dalam merawat ciptaan.
Pendekatan ekoteologi menjadi salah satu perspektif yang digunakan untuk membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga berkaitan dengan nilai moral, spiritual, dan tanggung jawab bersama.
Dengan demikian, gerakan pariwisata berkelanjutan di Hila–Kaitetu diarahkan untuk membangun hubungan yang lebih harmonis antara alam, manusia, budaya, nilai spiritual, dan aktivitas pariwisata.
Deklarasi Bersama: Komitmen untuk Pariwisata Berkelanjutan
Salah satu momen utama dalam rangkaian World Tourism Day 2026 adalah Deklarasi Bersama untuk Pelestarian Lingkungan dan Warisan Budaya dalam Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Maluku.
Deklarasi tersebut dituangkan dalam akta narasi dengan pernyataan:
“Kami siap bersama-sama mendukung pelestarian lingkungan dan warisan budaya dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan di Maluku.”
Pernyataan tersebut menjadi simbol komitmen bersama seluruh pihak yang terlibat untuk menjadikan pelestarian lingkungan dan warisan budaya sebagai bagian penting dalam pengembangan pariwisata di Maluku. Deklarasi juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pelestarian budaya, masyarakat, generasi muda, serta dunia usaha dalam menjaga keberlanjutan destinasi.Hila–Kaitetu sebagai Ruang Pembelajaran Pariwisata BerkelanjutanMelalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, Hila–Kaitetu menjadi ruang pembelajaran bersama mengenai bagaimana pariwisata dapat dikembangkan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan keberadaan warisan budaya. World Tourism Day 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan peringatan, tetapi dapat menjadi momentum untuk membangun gerakan berkelanjutan melalui edukasi, konservasi, pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi multipihak.Bagi perguruan tinggi, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menghubungkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dengan persoalan nyata yang dihadapi destinasi. Sementara bagi generasi muda, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengenal lingkungan dan warisan budaya sejak dini sekaligus membangun kesadaran bahwa mereka memiliki peran dalam menentukan masa depan pariwisata Maluku.Pada akhirnya, pesan yang dibawa dari Hila dalam World Tourism Day 2026 adalah bahwa pariwisata yang berkelanjutan membutuhkan alam yang terjaga, budaya yang dilestarikan, dan masyarakat yang terlibat.
WORLD TOURISM DAY 2026
SUSTAINABLE TOURISM MOVEMENT
“Merawat Alam, Melestarikan Budaya, Menguatkan Masyarakat”